Bagi Umat Islam di Indonesia Idul Fitri merupakan sebagai hari raya utama, kesempatan untuk berkumpul bersama dengan anggota keluarga, apalagi keluarga yang terpisah jauh karena suatu pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Beberapa minggu sebelum Idul Fitri, umat Islam di Indonesia sudah mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya ini, mulai dari Mudik atau Pulang Kampung, menyiapkan hidangan untuk lebaran, bahkan sampai mengganti dekorasi rumah serta pakaian apa yang akan digunakan saat lebaran. Semua ini merupakan tradisi yang lazim dilaksanakan sebagian besar umat Islam di Indonesia.
Di masyarakat Minangkabau Sumatera Barat, selain dari tradisi tersebut juga ada tradisi "bantai" biasanya disini menyembelih hewan ternak berupa kerbau atau sapi. Tradisi ini dilaksanakan beberapa hari sebelum lebaran yang juga hampir bersamaan dengan tradisi membuat kalamai (kuliner khas minangkabau).
Di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, Sijunjung, ada suatu tradisi yang cukup berbeda dari daerah lain. Tradisi "bararak" atau berarak, merupakan sebuah tradisi pada saat hari raya idul fitri. Dimana satu keluarga berziarah secara berombongan ke makam-makam anggota keluarganya yang telah meninggal dengan berjalan kaki yang dipandu oleh beberapa orang dari surau yang biasanya dikenal dengan sebutan "orang siak". Sepanjang perjalanan orang-orang siak ini akan bersolawat hingga tiba ke pemakaman. Apabila rombongan berarak ini berpapasan dengan rombongan berarak yang lain, mereka biasanya akan saling bersalaman guna menyambung ikatan silaturahmi. Pemandangan akan sering ditemui hingga sampai ke pemakaman yang kemudian dilanjutkan dengan doa bersama.
Tradisi "bararak" tersebut sudah dilakukan sejak dahulu dari nenek moyang orang Nagari Padang Laweh. Tidak ada tahun pasti kapan tradisi tersebut dimulai. Namun yang pasti tradisi tersebut masih bertahan sampai saat sekarang ini. Tradisi tersebut juga hanya akan ditemui pada saat hari raya idul fitri saja. Karena memang tradisi tersebut hanya dilaksanakan setahun sekali.
Yang melaksanakan tradisi ini bukan hanya satu keluarga saja, hampir semua keluarga yang merupakan masyarakat asli Padang Laweh melaksanakan tradisi ini. Sehingga dapat dipastikan kebutuhan akan orang siak pun sangat banyak. Akibatnya semua laki-laki di Padang Laweh diharuskan untuk pandai bersiak. Kepandaian "bersiak" ini di dapat dari surau, biasanya di akhir-akhir bulan Ramadhan para pemuda surau sudah mulai belajar dan berlatih untuk bersiak.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan lupa tinggalkan komentar anda disini